Masih Banyak Orang Jadi Korban Hoaks dan Penipuan Digital, Cakap Digital Solusinya  

Foto: Dokumen Pribadi

JAKARTA, SUARASOLO.id

Dunia teknologi berkembang sangat pesat. Sayang hal ini tidak diimbangi dengan menggunakan teknologi informasi dengan tepat.

“Sebagian orang  masih banyak yang jadi korban hoaks, penipuan digital, penggunaan medsos yang negatif. Akibatnya, medsos yang seharusnya menyatukan menjadi ajang pertikaian. Harusnya menjadi ajang silaturahmi, saling berbagi hal baik, tetapi jadi ajang share hoaks. Maka dibutuhkan pelatihan agar orang cakap digital,” kata Cosmas Gunharjo Leksono, Pandu Literasi Digital  Masyarakat Umum,  dalam acara yang  diadaka Pusat Pengembangan Literasi Digital dan BPSDM KOMDIGI, yang dilaksanakan online via Zoom, Kamis (6/11/2025).

Cosmas Gunharjo Leksono, Pandu Literasi Digital Masyarakat Umum

Dikatakan Gunharjo, cakap digital  merupakan kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan memanfaatkan teknologi dan informasi di internet secara efektif, tepat dan share konten secara tepat.

Gun menjelaskan  tentang cara meningkatkan keamanan akun salah satunya dengan mengaktifkan fungsi two factor authentication (2FA). Cara ini menambah keamanan  verifikasi kedua selain kata sandi, melalui dua faktor identifikasi  melalui SMS maupun OTP atau email.

Tekait dengan media sosial (medsos) Gun menyoroti tentang adanya konten negatif. Misalnya, ada yang menggunakan AI demi meraih klikbait, like, share, tak peduli yang dishare merugikan orang lain.

“Masalahnya, ada sebagian konten yang negatif di medsos. Misal, ada konten yang hanya untuk meraih klikbait, mengejar algoritma, mendapatkan like, mendapatkan follower dengan cara yang tidak benar misalnya menggunakan AI tetapi memutar balikkan fakta: banjir di Bali, orang-orang di tebing jurang berkaca ambrol,” kata Gun mencontohkan.

Lebih penting lagi, jangan ikut menyebarkan hoaks. Sebelum menshare informasi, share berita, harus dicek kebenarannya, diverifikasi.

“Saring sebelum sharing,” ujar Gun.

Tentang transaksi online, juga harus berhati-hati. Sebab, banyak orang bergentayangan mencari mangsa khususnya orang-orang yang literasi digitalnya masih minim.

Ada risiko transaksi online sepeti penipuan online (scam), pencurian data pribadi, pembajakan akun (hacking), barang tidak sesuai atau tidak dikirim, kebocoran data di platform digital, phising (tautan palsu) dan kerugian finansial akibat kelalaian.

Tentang maraknya penggunaan AI, Gun menekankan, AI tidak menggantikan manusia.

“AI berfungsi sebagai alat bantu yang mempermudah pekerjaan manusia dengan menganalisis data dan memberikan rekomendasi cepat, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Perlu diingat juga,  manusia memiliki empati dan kreativitas—dua hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin,” ucap Gun menutup pembicaraan. **

V A Paulo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *